kita yang tak pernah mau di dominasi…ya…kita yang terlihat biasa saja, ternyata menjadi sasaran empuk para "pendominasi". Mereka para manusia yang mengklaim dirinya mempunyai kekuasaan, mempunyai kekuatan, mempunyai nyali dan mulut besar ternyata mempunyai sebuah ruang dan jalan untuk melakukannya. Media yang mempunyai kekuatan total dalam mendoktrin setiap pemirsanya mereka jadikan alat propaganda untuk menanamkan pola pikir yang sebetulnya bukan untuk khalayak banyak, saat panca indra menstimulasi semua yang dilihat, didengar, dapat dengan cepat disalurkan kedalam otak manusia…entah ..tidak jelas kebenaran atau kesalahannya, hanya fakta nyata yang tergambar di masyarakat yang dapat kita jadikan landasan baik atau benarnya….ya…kesepakatan sosial yang dapat dengan mudah disampaikan antara dari satu ke yang lainnya.
Tidak pernah tersadar bahwa kita pernah didominasi, secara halus dapat dikatakan bahwa hal tersebut tercipta dengan sangat mudah, saat sebuah ide, gagasan dan nilai yang sempat terbilang brilian namun beresiko dapat cepat hilang dengan argumentasi-argumentasi yang telah dipersiapkan, kita dengan cepat dapat termakan hal itu. Nilai patriaki mempunyai pengaruh sangat besar saat kekuatan gender diaplikasikan. Budaya kita sebagai orang timur merupakan nilai minus yang menjadi peluang bagi para "pendominasi", sifat nerimo(bahasa jawa), malas bertanya, mengangguk tanpa pernah sekalipun memikirkan dampak yang akan terjadi adalah sebuah blunder, entahlah apa yang terjadi nantinya, apakah janji-janji masih merupakan cara yang paling efektif untuk mengelabui kita tanpa melihat sebuah kapabilitas dibelakangnya, atau ada sesuatu yang tidak seimbang antara hak dan kewajiban, nilai kebutuhan(need) dan hawa nafsu(desire) yang seolah2, "bila hari ini kita hidup senang, masa bodoh hari esok"..klise dan terlalu pasrah..sampai kapanpun akan terus seperti ini.
