Beliau mempunyai nama lengkap Bapak Indo Nesia Raya, beristrikan perempuan cantik bernama Ibu Pertiwi. entah karena apa sang Ibu lebih terdengar familiar dikalangan tetangganya, mungkin pendekatan gender lebih dapat diterima oleh sebagian orang di kompleknya. Disini kita sepakat memanggilnya Bapak atau Ibu saja. Sebagai seorang pejuang dan seorang pemimpin, Bapak yang satu ini tidak suka bila namanya hanya dipanggil setengah-setengah, ia seperti terlihat gagah bila namanya disebut secara lengkap. Beliau terbilang tua untuk seorang kepala keluarga, tapi beliau mempunyai tanggung jawab yang lebih berat daripada orang lain sebayanya. Ya, sebagai kepala keluarga Bapak satu ini juga mempunyai kewajiban sebagai Bapak kost-kostan tepat disamping rumahnya, beliau mengasuh hampir 33 anak asuhnya, sebutlah beberapa, yang pertama, anak yang bernama Padang ini sangat hebat dalam membuat makanan, ketika ditanya apa keinginannya, jawabannya hanya satu “saya ingin membuka restoran dengan nama saya sendiri, Restoran Padang”, atau anak yang berbakat bernama Madura, arsitek hebat yang mempunyai cita-cita membuat jembatan. Ada pula anak yang bernama Bali, darah seni sangat menempel di dirinya, katanya itu sudah bawaan dari ibu bapaknya seorang pematung handal, Bali pun mengikuti jejak mereka. Atau si “gadget” buat panggilan Jaka, dikamar kostnya Jaka terbilang mempunyai hampir semua teknologi ter-update diantara teman-temannya, ditunjang dengan kemampuannya sebagai mahasiswa ekonomi handal di perguruan tinggi negeri, Jaka seolah-olah menjadi konsultan keuangan bagi teman-temannya, hebatnya lahan tersebut ia jadikan lahan bisnis dengan membuka kantor kecil2an seluas 4x6 bernama “Jaka arta consultant”

“Umur boleh tua asalkan semangat dan keinginan tetap muda”, jargon tersebut selalu tertempel di dinding Bapak kost-kostan ini setiap umurnya bertambah, mungkin selotip yang digunakan untuk menempelkan kertas itu juga sudah setua umurnya. entah semangat atau pengalaman yang membuat Bapak selalu terlihat optimis. Banyak oknum yang terkadang membuat Bapak ini was-was, ada saja oknum yang tiba-tiba mengklaim bahwa tanah yang berdiri sebagai kost-kostan itu adalah milik pihak lain, atau tiba-tiba ketika musim rambutan dan durian, tetangga sebelah kost-kostan yaitu keluarga seorang duta besar Negara adidaya mencuri buah-buahan tersebut, padahal Ibu Pertiwi sangat menjaganya, kadang dengan nada keheranan “kok ada ya bule suka durian??”. Jangankan itu, bila sudah masuk musim petasan, Bapak dan Ibu selalu siaga satu menjaga kost-kostannya, banyak anak-anak yang suka melempar petasan ke dalam kost-kostan, pernah sekali waktu mengenai salah satu anak kostan.

Tapi itulah hidup, walaupun banyak cobaan dan halangan Bapak dan Ibu selalu bersikap optimis, bagi mereka, melihat suasana keharmonisan yang mulai terjaga antara anak-anak kostnya merupakan anugerah, baik suku, agama dan ras. Bagi Bapak dan Ibu membangun kost-kostan layaknya membangun sebuah Negara, diperlukan semangat dan kerjasama yang baik antara satu dan lainnya. Maju terus Pak, ingat bahwa kost-kostan ini adalah resmi milik anda, teruskan semangat juang untuk mencetak anak-anak yang handal dari kostan ini. Oh iya satu lagi, selamat ulang tahun yang ke 64 Pak!!. Merdeka!!